CerpenTentang Sepak Bola. Cerpen bola monday, 5 december 2016. Hanya kerana dia tak pernah bagi ruang untuk aku menyendiri di tepi padang ni tengok orang main bola sepak. Kami bermain pada sore hari, saat matahari tidak terlalu panas. Source: kitabelajar.github.io. 27 februari 2022, 17:28:28 wib. "pulang kau, luis!" terkadang gracia cerpenpengalaman pribadi " Kalah Menang Hal Biasa " Nama aku Bocil aku sangat gemar bermain sepak bola. Pemain sepak bola yang aku kagumi dan aku idolakan adalah "CR" atau orang lebih mengenalnya Cristian Ronaldo. Aku menggemari sepak bola dari kelas 3 SD. aku mempunya cerita tentang pertandingan sepak bola ku pertama kali Tubuhsedang lincahnya untuk bermain dan berlari. Disekolah bermain galasin, dampu, benteng, batu tujuh, gundu (kelereng) juga sepak bola plastik. Menjelang bulan puasa, biasanya permainan fisik berkurang mengingat aku muslim yang sedang belajar berpuasa. TEMATIKKELAS 2 TEMA 3 SUBTEMA 2 PEMBELAJARAN 5 "BERMAIN SEPAK BOLA" - YouTube. alur cerita"dari penjual es menjadi pemain bola"kelas x - Evan Dimas Cerita Pengalaman di Spanyol dan Pengaruh Iniesta Halaman all - Kompas.com Cerpen: Sepak Bola. Cerita Welber, Bakat Muda Indonesia yang Cari Peruntungan di Brasil - INDOSPORT. Kegemarankudari sejak kecil sampai sekarang adalah bermain bola terlebih bermain futsal. Bermain Futsal adalah hal yang seru buatku, membuat hati riang dan gembira terlebih saat mengocek lawan dan mencetak gol. Dalam futsal aku belajar kebersamaan, kekompakan dan kedisiplinan dan fair play. Setiap hari jumat aku punya jadwal berlatih fulsal TYsB. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Sepak bola, sebagai salah satu olahraga yang paling banyak dimainkan juga digemari di Indonesia, menjadi alternatif kegiatan di kala waktu senggang bagi banyak kalangan, khususnya anak-anak, pada sore hari. Tak terkecuali saya dengan teman-teman yang lain. Pada masanya, kami gemar sekali bermain sepak bola sepuasnya, sesukanya, tanpa mengenal waktu bermain. Pagi, siang, sore, bahkan malam hari pun tidak sepak bola menjadi olahraga favorit kami bersama sedari dulu. Rasanya, tidak repot dan tidak membutuhkan sesuatu yang mahal jika ingin bermain sepak bola. Cukup membeli bola plastik di warung terdekat pun sudah bisa bermain. Jika ingin bermain dengan bola bliter bola karet, kami biasa membelinya terlebih dulu di toko olahraga yang berada di kota dengan cara patungan sukarela. Uang yang sudah terkumpul sekira 50 ribu pun sudah lebih dari kata cukup untuk membeli bola bliter dengan kualitas paripurna. Ilustrasi anak-anak bermain sepak bola Vinivee via Kaskus Saya bersama dengan teman-teman yang lain biasa bermain bola di lapangan dekat rumah tanpa menggunakan sepatu. Soal gawang? Biasanya lebar gawang kami hitung manual dengan langkah kaki yang sudah disepakati. Bagaimana soal tinggi gawang? Ah, tinggal dikira-kira saja. Soal jumlah pemain dalam satu tim pun tidak perlu 11 orang, karena keterbatasan luas lapangan. Jadi, lebih kepada disesuaikan dengan banyaknya orang yang ada dan ingin bermain. Bagi kami, yang penting sama-sama bergembira dalam olahraga. Melepas penat setelah seharian belajar di sekolah. Sewaktu SMP sampai dengan SMA, sekira tahun 2003-2009, kami belum begitu terkontaminasi oleh handphone. Jadi, selama berkumpul juga bermain sepak bola tentu tidak akan terdistraksi oleh notifikasi yang kami berkumpul setelah azan ashar. Ada yang sambil mengobrol, membeli jajanan yang lewat, atau sekadar oper-operan bola dan pemanasan sebelum benar-benar bermain. Bahkan, saat sudah bermain pun ada saja yang melipir ke pinggir lapangan untuk membeli jajanan favorit atau membeli pop ice di warung sekitar lapangan karena haus. Ya, namanya juga bermain secara bebas. Tidak ada formalitas dalam hal peraturan, apalagi penggunaan semua bermain dengan suka cita tanpa terbebani harus jago seperti Cristiano Ronaldo, atau lincah dan penuh talenta seperti Lionel Messi juga Neymar. Asal lari, dapat mengoper, juga menendang semua melebur jadi satu. Tak jarang pula kami tertawa terbahak-bahak dan menghentikan pertandingan jika ada seorang kawan yang jatuh karena terpeleset atau melakukan hal yang menyebalkan seperti melorotkan atau menarik bermain sepak bola kala itu, kami semua tidak pernah mengenal waktu. Tidak ada pula batas akhir kapan harus selesai bermain. Hanya ada dua penanda akhir pertandingan; pertama, karena sudah capek, kedua berkumandangnya azan maghrib. Tak jarang pula bapak-bapak di sekitar lapangan yang menegur secara langsung untuk menghentikan pertandingan dan sebaiknya pulang ke rumah agar dapat segera bersiap melaksanakan solat maghrib. Kini, kami semua sudah beranjak dewasa dan disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Ada yang kuliah, ada pula yang bekerja. Sudah hampir sekira 6-7 tahun tidak ada lagi keceriaan yang hadir di lapangan setiap sore sampai menjelang maghrib. Kegiatan berkumpul, berbincang, dan bermain sepak bola sudah terganti dengan kecanggihan teknologi dalam satu genggaman disertai kemunculan banyak game yang dianggap jauh lebih menyadari bahwa, masa saya bersama teman-teman seangkatan lain sudah habis, untuk bermain dan berbagi keceriaan di lapangan setiap sore. Memang, ada alternatif lain seperti menyewa lapangan futsal untuk sekadar mengolah si kulit bundar bersama dengan yang lain. Hal itu terbilang sering kami lakukan. Namun, tentu rasa juga sensasinya lain. Dan kami sama-sama menyadari, tidak akan pernah bisa kembali ke masa yang biasa digunakan untuk bermain bola, saat ini sudah dimaksimalkan dan terganti dengan taman bermain anak. Keceriaan pun berganti. Paling tidak, hal tersebut jauh lebih baik karena generasi baru masih disediakan tempat untuk bermain. 1 2 Lihat Sosbud Selengkapnya - Usia bukanlah halangan untuk mengasah hobi dan meraih prestasi di bidang apa saja, salah satunya di bidang olahraga, seperti halnya Muhammad Rasya Thalhah Nabil Lubis 13 atau yang akrab disapa Rasya. Murid kelas 1 SMP Sekolah Cikal ini telah sukses meraih puluhan prestasi dalam dan luar negeri yang diperolehnya di olahraga sepak bola sejak berbagi cerita bagaimana awal mula ia menyukai dunia sepak bola, yakni saat ia terpilih menjadi salah satu Player Escort dalam laga persahabatan FC Internazionale Indonesia Tour tahun 2012 di Gelora Bung Karno, Jakarta. Baca juga Murid Kelas 10 Kreasikan Tenun Jadi Fesyen Milenial, Beromzet Ratusan Juta “Waktu itu aku menjadi Player Escort untuk FC Inter Milan. Itu jadi awal momen aku semakin suka dengan sepak bola, aku jadi turut merasakan bagaimana serunya bermain bola, merasakan lingkungan menjadi pemain sepak bola, seperti bisa main di stadion besar, banyak yang menyaksikan. Dari sanalah, aku semakin ingin bermain bola,” tutur Rasya dalam keterangan tertulis yang diterima Kamis 27/5/2021. Setelah terinspirasi dari momen menjadi Player Escort FC Inter Milan, Rasya pun terus mengembangkan kompetensinya di bidang sepak bola hingga mewakili Indonesia pada kegiatan Liga Madrid, Tour The Spain 2019 dengan meraih juara 3 sebagai kapten bergabung dalam akademi sepak bola dan tetap bersekolah, Rasya terus mengukir prestasi sepak bola di berbagai kompetisi dalam dan luar negeri. Beberapa prestasi terbaiknya di antaranya adalah Splash youth soccer 2018, Tournament IJSL 2018, Junior Leagues Football, ACS, 4rd place, Tournament Sepakbola GMSV CUP IX, 3rd place, JSSL Singapore 2017, Java Soccer Academy, AIA scouting talent to Phuket Thailand 2019, dan capaian Liga madrid, Tropia Cup, 3rd place, Tour The Spain 2019 sebagai kapten tim, dan puluhan prestasi lainnya. Baca juga Uang Kripto Kian Populer, Ini Penjelasan Pakar Ekonomi Syariah IPB “Aku tergabung di dua sekolah, akademi sepak bola ASIOP dan juga Sekolah Cikal, latihanku 3 kali seminggu. Aku senang sekali Sekolah Cikal memberikanku izin dan dukungan untuk tetap latihan sepak bola, dan tentunya aku bahagia sekali bisa memperoleh banyak piala, medali, dan berprestasi di luar negeri serta membawa nama baik Indonesia di luar. Aku dapat banyak pengalaman,” tutur Rasya. Di momen pandemi ini, Rasya pun tetap berlatih dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, seraya tetap belajar secara daring dengan pendampingan orang tuanya untuk mempersiapkan banyak peluang di depan. “Aku memiliki impian menjadi pesepakbola Indonesia yang bermain di laga Internasional saat usia 15-16 tahun. Untuk meraih impian itu tentunya harus terus berlatih, dan kerja keras raih mimpi. Walau kalah dan susah dalam prosesnya, tapi di sanalah aku bisa belajar. Dari sana, bisa terus berlatih sama-sama. Prinsipku, untuk meraih cita-cita harus hadapi susahnya dahulu baru mudahnya, ” kata Rasya dengan penuh semangat saat wawancara. Sumber gambar Aku tidak mengira kejadian itu akan membekas dan berpengaruh buruk buat pergaulanku. Aku masih berusia 12 tahun kala itu. Di Minggu sore, seperti biasa, teman-teman sepermainanku menjeputku untuk bermain sepak bola. “Anak-Anak yang lain sudah kumpul ya?” teriakku dari depan pintu rumah kepada teman-temanku yang sedari tadi memanggil namaku di depan pagar. “Sudah Gus, tinggal nunggu kamu saja!” Ardian berkata cukup keras, namun tidak seperti berteriak, mewakili kumpulan anak-anak lain tanpa diminta. “Tunggu 5 menit kalau begitu.” Setelah itu aku masuk ke rumah dan berpamitan pada ibu. Kami kemudian menuju lapangan sepak bola. Lapangan yang kami gunakan untuk bermain bola adalah halaman rumah yang luas milik tetangga di kampung. Ada dua pohon mangga berukuran cukup besar dan satu pohon mengkudu di tengah lapangan. Tetapi itu bukan masalah besar bagi anak-anak kampung seperti kami. Gawangnya berupa dua batu bata. Seseorang diantara kami mengukur gawang dengan langkah kaki agar lebar kedua gawang sama lebarnya, kemudian memberi sebuah batu bata bekas yang bisa dengan mudah ditemukan di sekitar kampung di masing-masing ujungnya. Paling-Paling bagian yang sering bikin ribut adalah ketika bola melintas tepat di atas batu bata. Anak-Anak akan berdebat apakah itu termasuk gol atau keluar. Bahkan argumen seperti berandai-andai bata itu adalah gawang, tentu bola akan mengenai tiang dan masuk pun adalah hal yang lumrah. Ketika aku, Ardian, dan 3 teman lainnya datang ke lapangan, sudah ada beberapa anak di lapangan. Salah satunya membawa bola plastik seharga Rp Tak lama kemudian, kami membagi tim. Sekalipun saat itu ada 13 anak, bukan masalah seandainya nanti tim yang terbentuk terdiri dari satu tim dengan 6 orang melawan satu tim dengan 7 orang. Kami hanya bersenang-senang bersama saja. Dan berteman baik. Jika cerdik teman berunding, jika bodoh disuruh diarah. “Agus ikut timku” pinta Andi. “Harusnya ikut timku biar imbang. Jumlah tim kaliankan sudah lebih satu orang.” Ardian tidak mau mengalah. Mereka bertengkar memperebutkanku. Hal semacam ini cukup sering terjadi mengingat aku jago bermain bola. Dan meski kami tidak pernah mempersoalkan menang atau kalah, tetapi jelas setiap anak ingin memenangkan pertandingan. Akhirnya kedua tim melakukan suit, pemenangnya akan mendapatkan aku sebagai salah satu bagian dari timnya. Ternyata Andi yang menang suit dan aku pun segera menuju ke daerahku. Tak lama kemudian, permainan pun di mulai. Jangan bandingkan permainan kami seperti sepak bola di televisi, mengingat lapangannya tidak seluas lapangan sepak bola resmi, kami tidak perlu bermain strategi. Setiap anak bebas menyerang dan bertahan. Tidak ada aturan. Bahkan kiper pun terkadang ikut maju. Tidak ada tendangan pojok karena kami tidak mengenalnya. Jika bola keluar di sisi gawang, sekalipun pemain terakhir adalah pemilik daerah tersebut, tetap saja menjadi bola mati bagi kiper. Juga jarang terjadi lemparan ke dalam karena ada tembok pembatas sehingga bola tidak keluar. Kecuali bola keluar ke jalan di mana kendaraan berlalu lalang, atau terlalu melebar jauh dari posisi gawang, baru terjadi lemparan ke dalam. Situasinya sedang sangat bagus bagiku. Aku sudah mencetak 4 gol dan timku memimpin dengan kedudukan sudah 7-4. Namun, itulah awal dari mimpi burukku. Ketika bola keluar terlalu jauh dan tersangkut di semak-semak, aku terlalu bersemangat berlari mengambil bola. Dan ketika aku melangkahkan kaki ke dalam semak, aku langsung berteriak. Aku terkena pecahan mangkok yang dibuang di semak-semak, siapa pun orang yang melakukannya, kuharap ia akan mengalami apa yang kurasakan. Darah mengalir dengan deras dari telapak kakiku. Seorang teman dengan sigap berlari ke rumahku dan memanggil ibuku. Tak lama kemudian, kakiku di balut kain bekas kaos, kemudian dengan naik becak ibu membawaku ke rumah sakit. ****** Aku menyalahkan diri sendiri secara terus menerus karena nilai ujian nasionalku jelek, kendati pun tetap lulus. Dan pada akhirnya, aku mulai membenci sepak bola. Sejak pulang dari rumah sakit, aku jadi sering sakit demam. Itu membuatku jarang masuk sekolah, padahal saat itu hampir ujian. Bahkan ketika ujian berlangsung, kakiku masih nyeri dan tidak bisa berkonsentrasi. Bapak memarahiku habis-habisan, “Sudah tahu mau ujian malah bermain terus. Sudah begitu, sampai kena beling dan sakit-sakitan.” Dan rentetan kemarahan lain ketika kutunjukkan nilai ujianku. Sejak saat itu, aku tidak lagi bermain bola. Beberapa teman di kampungku mencoba memaksaku ikut bermain bola, tetapi aku tetap teguh pada pendirianku. Anak SMP dan SMA biasanya bermain di lapangan yang sesungguhnya tak jauh dari kampung secara rutin, meski ada beberapa aturan yang dilanggar, tetapi sudah mirip pemain bola pro. Dan aku tidak pernah ikut berpartisipasi. Ketika berkumpul seusai maghrib di pos desa, tiba-tiba ada yang bercanda menyebutku “bencong” karena tidak mau bermain bola. Mereka tidak pernah tahu kebencianku dengan sepak bola sehingga aku tidak peduli ejekan mereka pada awalnya. Namun, intensitas ejekan semakin menjadi dan aku merasa bagai alu sesudah menumbuk dicampakkan. Aku pun sedikit demi sedikit menghindar dan pada akhirnya tidak lagi bergaul dengan anak-anak di kampungku. Di sekolah, hal yang sama terjadi. Bukan hal yang aneh, di kelas ada anak dari kampungku. Dan ketika jam olahraga, ketika aku menolak untuk ikut bermain, mantan teman sekampungku mulai mengataiku dan diikuti anak-anak yang lain. Sejak saat itu, aku jadi pendiam dan lebih suka membaca buku atau belajar pelajaran dari sekolah. Dan siapa mengira, gara-gara aku diledek habis-habisan karena tidak mau bermain bola, aku menjadi giat belajar. Ketika hasil ujian kelas 3 SMP diumumkan, aku mendapat posisi 5 besar dari seluruh siswa. Meski aku tidak heran karena 3 tahun terakhir aku selalu mendapat peringkat 3 besar di kelas. Semua karena aku benci sepak bola dan tidak punya banyak teman. TAMAT. A. Sumber Cerita Iklan Ramadhan Mandiri. B. Unsur Intrinsik 1. Tema Raih Kemenangan Sejati dengan Keikhlasan. 2. Penokohan a. Amir Anak – anak, baik, suka menolong, suka memberi berbagi . b. Mas Andi Pemuda, baik, suka menolong, bersahaja, suka memberi, pengusaha. c. Pak Salman Orang tua, baik, suka berbagi. 3. Latar a. Kapan Sore, Malam, Pagi. b. Dimana Pasar, Jalan, Rumah, Masjid. C. Pokok – Pokok Cerita 1. Amir ingin membeli sajadah di Pasar. 2. Mas Andi melihat kesulitan yang dihadapi Amir. 3. Amir menolong Mas Andi yang dompetnya ketinggalan. 4. Amir membeli kolek di Pasar untuk berbuka puasa. 5. Amir pulang ke rumah untuk bertemu Pak Salman. 6. Amir bertemu Pak Salman di Jalan sedang takbiran. 7. Amir dan Pak Salman bertemu Mas Andi di Jalan. 8. Mas Andi memberikan sajadah kepada Amir. 9. Amir menerima sajadah yang diberikan oleh Mas Andi. 10. Amir memberikan sajadahnya kepada Pak Salman. 11. Amir dan Pak Salman menuju ke Masjid untuk melaksanakan Sholat Idul Fitri. 12. Pak Salman berbagi sajadahnya dengan anaknya. 13. Amir dan Pak Salman melaksanakan Sholat Idul Fitri di Masjid. D. Pengembangan Cerpen Raih Kemenangan Sejati dengan Keikhlasan Petang itu di Pasar ada seorang anak laki – laki yang bernama Amir. Ia ingin membeli sajadah untuk melaksanakan Sholat Idul Fitri. Sambil berjalan Amir menghampiri seorang penjual sajadah. Setelah sampai dipenjual sajadah. Amir melihat – lihat dan memilih – milih sajadah, yang menurut ia bagus. Setelah ia menemukan sajadah yang bagus dan tentu ingin membelinya. Ketika ia bertanya kepada penjual sajadah. “Bang ini sajadah berapa harganya ?” ucap Amir, sambil memegang sajadah. “Harganya 35 ribu Nak,” ucap penjual sajadah. “Uangnya cuman ada 11 ribu Bang, boleh nggak?” ucap Amir, sambil memegang uangnya. “Nggak boleh, cari tempat lain saja sana !” ucap penjual sajadah. “Iya, Bang,” ucap Amir, sambil mukanya sedikit kecewa. Ketika Amir mengalami kesulitan. Ada seorang pemuda yang bernama Mas Andi. Ia adalah seorang pengusaha. Mas Andi berada di dalam mobil melihat kesulitan yang sedang dihadapi Amir. Ia pun teringat pada waktu dompetnya ketinggalan ketika hujan yang sangat deras. Kemudian Amir menolong Mas Andi yang dompetnya ketinggalan. “Aduh dompetnya ketinggalan?” ucap Mas Andi, sambil mencari – cari disaku celananya dan sambil memegang payung. “Sini Mas pinjem payungnya, biar saya saja yang mengambilkan,” ucap Amir, sambil tersenyum dan seluruh badannya basah kuyub. “Iya sudah, iya terima kasih Nak,” ucap Mas Andi, sambil memberikan payungnya kepada Amir dan sambil tersenyum pula. Ketika Mas Andi teringat dengan kejadian dompetnya ketinggalan. Ia terus memperhatikan Amir. Setelah Amir pergi dari penjual sajadah, Mas Andi langsung membeli sajadah yang diinginkan oleh Amir. Setelah Amir tidak bisa membeli sajadah, sambil berjalan ia langsung mencari penjual kolek. Tak lama berjalan, Amir menemukan penjual kolek. Ia langsung membeli kolek untuk berbuka puasa. “Bang koleknya dua, berapa harganya?” ucap Amir, sambil memegang uangnya. “Harganya satu bungkus 2 ribu, jadi dua bungkus harganya 4 ribu Nak,” ucap penjual kolek, sambil memberikan koleknya kepada Amir. “Iya sudah, ini uangnya Bang,” ucap Amir, sambil menerima kolek. Setelah Amir membeli kolek di Pasar untuk berbuka puasa. Ia berjalan menuju ke rumah untuk bertemu orang tuanya. * * * Tak terasa lama berjalan, Amir bertemu orang tuanya yang bernama Pak Salman. Pak Salman sedang takbiran di Jalanan. Amir dan Pak Salman langsung berjalan pulang menuju ke rumah. Ketika Amir dan Pak Salman sedang berjalan. Bertemu Mas Andi yang waktu itu pernah ditolongin oleh Amir, untuk mengambilkan dompetnya yang ketinggalan pada saat hujan yang sangat deras. Mas Andi memberikan sajadah yang diinginkan oleh Amir. Ketika Amir ingin membelinya tapi uangnya kurang. “Ini buat kamu, Nak ?” ucap Mas Andi, sambil memegang sajadah dan menyodorkan sajadahnya kepada Amir. “Iya, terima kasih Mas,” ucap Amir, sambil tersenyum dan menerima sajadah yang dikasih oleh Mas Andi. “Ini buat Bapak ?” ucap Amir, sambil tersenyum. “Iya, Nak,” ucap Pak Salman, sambil tersenyum pula. * * * Keesokan harinya terdengar suara takbiran “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar,” suara takbiran dikumandangkan. Amir dan Pak Salman langsung menuju Masjid untuk melaksanakan Sholat Idul Fitri. Setelah sampai di Masjid, Amir dan Pak Salman duduk dan Pak Salman berbagi sajadah dengan anaknya. Amir dan Pak Salman pun melaksanakan Sholat Idul Fitri dengan berjama’ah di Masjid. Cerita Pendek Karya Thomas Sunlie Alexander Lapangan yang bukan adil, kata Aswin. Bek kanan yang tangguh, tapi mudah terpancing emosi. Dia enggak menyungguhkan, lain lagi menidakkan. Pemain lawan juga sering mengikat jikalau bertanding di alun-alun sepak bola kampungnya itu. Kesebelasan yang berkat giliran menempati sisi lapangan yang landai mesti berjuang bertambah gigih. Bola untuk bergulir lebih liar dan lawan menyerbu seperti air bah. Sekejap-sekejap bola datang, Aswadi kiper timnya, terpontang-panting mengamankan papan. Sebaliknya, betapa sulitnya menggiring si kulit bundar ke papan sebelah. Usianya kala itu baru belasan periode. Mereka patungan menyablon kaus. Biru cahaya sebagai halnya kostum Les Bleus, tim nasional Prancis. Engkau kebagian nomor bekas kaki sapta. Gelandang kiri. Sebetulnya engkau lebih suka bermain sebagai penyerang dan selalu yakin ia anak bangsawan haus gol. Serangan-serangannya tajam, menusuk sinkron ke dalaman benteng imbangan. Namun, Bang Amran berkeras ia harus main di sayap. “Tendanganmu kurang akurat, tapi umpan-umpanmu bagus!” kata mbuk iparnya yang menjadi pelatih kesebelasan kampungnya itu. Bukan ada gunanya berbantah. Tahi lalat, ia melakukan tugas-tugasnya dengan baik. Bola tumpah-ruah berpangkal kakinya. Umpan demi umpan dengan gemilang disorongkannya. Ferdiansyah dan Fuad selalu subur memanfaatkan umpan-umpannya dengan memadai baik. Berkali-kali mereka menjuarai turnamen 17 Agustusan dan berhasil merebut Camat Cup dua tahun berentetan. Bahkan sekali menjadi runner-up Piala Tumenggung. Cuma, justru di kejuaraan memperebutkan piala Majikan Desa mereka seorang, di kandang sendiri, kesebelasannya mesti tersingkir di putaran peminggiran! Ya, tidak mungkin sira menaksirkan kejuaraan itu biar sudah lewat bertahun-tahun. Berdesakan, nyaris tergencet, di antara beribu-ribu calon penonton yang berkoar-koar murka, gambaran masa sangat itu merambat kerumahtanggaan kepalanya, seperti tayangan ulang di layar televisi. Digenggamnya erat-hampir tangan Riko, anaknya yang baru 10 tahun, agar tidak ikut terseret revolusi massa nan lebih kehilangan kesabaran. Bukan ada lagi antrean. Terjadi tolak-menunda, saling sikut. “Holid turuun! Holid turuuunn…!” suara kemarahan itu membahana di langit siang yang elusif. Beliau mencoba mengapalkan Riko menepi. Namun itu pun bukan keadaan mudah. Oh, betapa wajah-wajah lejar yang terpandang beringas di sekelilingnya kini serta-merta mengenangkannya pada hamba allah-orang kampungnya sendiri, nan sekonyongkonyong saja makara berangsangan tatkala berdiri di pinggir lapangan bak suporter magrib itu. Setakat sekarang, ia camar nanang hari itu terlampau awal mereka datang ke tanah lapang. Para penonton juga bertandang terlalu dini. Kompetisi akan dilangsungkan pukul empat sore, tapi jam dua warga kampungnya yang menjadi suporter telah tumpah ruah di pinggir pelan. Begitu bisingnya. Para pemuda berteriak-teriak dan berolok-olok ribut. Kaum ibu dan momongan-anak tidak kalah gaduhnya. Tak teradat tiket, tapi bandar spekulasi berkeliaran, kupon-kupon putih diam-diam diedarkan dari tangan ke tangan. Ahli bakso, penjual polong goreng, ahli es, gerobak nasi goreng, dan penjaja mainan anak-anak timbrung menyemarakkan suasana di luar lapangan. “Kami sudah kesuntukan dana!” teriak Sampul Burdin, ketua panitia penyelenggara, seperti kebakaran janggut momen warga memprotes minimnya fasilitas di lapangan. Mikrofon soak dengan suara cempleng, papan skor yang secukupnya, dan lapangan jelas tak dibenahi dengan semestinya. Penduduk namun bisa bersungut-sungut. Sungguh suasana menjelang pertandingan yang panas itu seolah masih bisa anda rasakan. Telinga mereka sampai terasa bising makanya suara teriakan. Maklum, supaya merupakan laga pertama kesebelasannya dalam turnamen, antiwirawan nan akan dihadapi tahun itu adalah kampung tetangga yang menjadi oponen turun-temurun selama bertahun-tahun. Andeng-andeng, lain cak semau alasan menyalahkan pelan jelek atas kekalahan. Kamu tahu itu, semua teman-temannya tahu. Malah bermain di kandang seorang, di hadapan orang-orang kampung nan mulai-tiba menganggap sepak bola sebagai fragmen terbit pertaruhan harga diri mereka. Di lapangan buruk itu, tim yang makin dulu menempati papan berumput lebat tentu tak menyia-nyiakan kesempatan mencetak skor sebanyak bisa jadi. Dan biasanya memang hampir selalu keluar sebagai kampiun. Maka ketika wasit membanting koin Rp100, ia kembali berdoa dengan sungguh-betapa agar Pudin bukan salah memintal gambar gunungan wayang. Puji-pujian itu terkabul. Mereka bersorak kegirangan saat melihat sebelah koin nan mendelongop di jejak kaki tangan wasit, seakan-akan sebuah gol hijau saja tercipta. Wajar hanya sekiranya suara cemooh dari suporter lawan lagi terdengar seperti itu Aswadi remang di durja gawang pilihan. Suasana menajam karena para pemuda kampung mereka membalas cemooh itu dengan garang. Terpandang aktual rasa panik di paras orang-orang yang menjadi polisi. Justru lapangan itu hanya dipagari tiga utas rayon lombong. Tapi kedudukan konsisten saja berubah jadi 2-3. Jeritan pendukung teman bergemuruh keras. Ia terhenyak. Panasnya perlombaan itu menciptakan menjadikan badan mereka seperti meleleh, tak juga makmur disejukkan oleh gerimis nan mulai menetes satu-satu lantas menggembung. Sebatas memasuki menit ke 74, satu gol sekali lagi menjebol gawang Aswadi. Kali ini dari noktah penalti! Mewujudkan kedudukan kaprikornus imbang 3-3. Kebahagiaan suporter bandingan meletus. Menyusul saling ejek dan lempar-lemparan nan tidak terhindarkan. Vas minuman, racikan papan, dan batu mulai menyimpang. Dahulu, bencana itu datang! Dia seram di sana, sira pulang ingatan, di pojok kiri gawangnya koteng. Semua pemain turun membantu benteng. Malah Ferdi tak pernah pun mendaki melalui garis tengah tanah lapang sejak gol penalti lawan tercipta. Ooh, bagaimana mungkin bisa sira lupakan serbuan yang cak bertengger begitu bertubi-tubi itu, mewujudkan mereka nyaris kocar-kacir. Ya, seolah-olah baru kemarin peristiwa itu berlangsung. Jelas sekali internal ingatannya bola itu datang bermula depan, menggelinding lurus ke tengah gawang. Aswadi tersungkur di luar boks penalti setelah berjumpalitan menghambat dua tembakan berturutan Salim. Aswin berusaha menyapu bola namun luput. Sahaja dirinya, satu-satunya individu nan bisa menghentikan laju bola itu, menyelamatkan gawang mereka bermula kebobolan. Hanya entah sudah takdir, atau amung-mata kesialan. Ah, malapetaka itu sama dengan diputar ulang kerumahtanggaan benaknya Kakinya terpeleset makanya licinnya mulut papan. Beliau kekurangan keseimbangan tepat di detik ujung sepatu kanannya menyentuh bola! Demikianlah. Anti dengan kehendaknya menendang bola jauh-jauh ke luar lapangan, sang selerang bulat apalagi terpelanting keras ke sudut kanan gawang. Tanpa ampun serempak mencarik jaring! Keributan berasal di luar tanah lapang. Sorak-sorai suporter imbangan seketika teredam oleh teriakan-teriakan marah. Sebagian pirsawan bercerai berlampar. Polisi dan polisi kadang-kadang tak berdaya ketika dengan beringas para pemuda kampungnya merangsek ke sebelah suporter lawan. Sebagian menyerbu ikut ke dalam alun-alun. Belum juga sempat anda beranjak kambuh, ia merasa bagian belakang kepalanya dihantam benda keras. Bagaimana mana tahu ia melengahkan pertandingan itu? Kepalanya nan mendapatkan pukulan batang tiang harus menerima lima jahitan dan diperban lebih dari seminggu. Tak koneksi diketahui siapa pemukulnya, bahkan lilin batik harinya rumahnya sempat dilempari orang tak dikenal. Itulah bontot kalinya dia bermain bola. Karena dua pekan berselang, hanya tiga masa setelah ia menyepakati ijazah kelulusan SMA-nya, ayahnya memanggilnya selepas sore. “Paman Hanif menanyakanmu,” kata ayahnya ketika itu, langsung menatapnya gagap. “Terserah salam pecah bibimu,” ibunya menambahkan. Amoi itu kecam pengikat di kepalanya dengan trenyuh. Beliau siuman, bagaimana sira hanya bisa tertunduk di sisi meja ruang paruh. “Kau mau kuliah?” pertanyaan si ayah kemudian. Kamu saja menganggut kerdil. Sejak itu, kakinya tidak ikatan lagi sampai ke bola. Bukan pernah sekalipun kamu hinggap ke lapangan maupun stadion. Ai, jikalau lain karena Riko merengek terus-menerus sehingga membuat istrinya sewot, takkan pernah ia menginjakkan kaki di stadion ini, pikirnya getir. Meskipun ia senggang, anak semata wayangnya sangatlah menyukai sepak bola. Suasana di depan stadion besar itu semakin tegang, semakin panas. Langit siang seakan ikut memerah. * Yogyakarta, 2015 *** Tentang Pengarang Thomas Sunlie Alexander lahir pada 7 Juni 1977 di Belinyu, Pulau Bangka. Sira menulis cerpen, syair, esai, suara miring sastra, ulasan seni rupa, dan gubahan sepakbola di berbagai kendaraan yang terbit di Indonesia, serta sama sekali mengerjakan parafrase. Pokok puisinya nan berjudul Sisik Ular babi Tataran diterbitkan secara terbatas maka dari itu Halaman Indonesia 2014. Daya cerpennya nan mutakadim berbunga merupakan Malam Buta Yin Gama Ki alat, 2009 dan Candik Taruna Dewa Dapur Ladang Pustaka & Sungai buatan Tua, 2012. Tentatif itu, novel karya Mo Yan, The Garlic Ballads Balada Bawang Putih yang diterjemahkannya akan segera diterbitkan. Cerpen “Kenangan Pada Sebuah Perlombaan” ini sendiri adalah cerpen yang sekali lagi mengingatkan kita, bahwa di balik sisi indah sepakbola, ada beberapa hal-hal getir dan ingatan nan menyesakkan nan selalu menolak bagi dilupakan. Sebagaimana halnya cerita Moacir Barbosa, sepakbola kadang boleh menjadi kutukan nan serupa itu bengis bagi beberapa pihak, menorehkan tarum hitam nan akan sulit untuk dilupakan, apalagi oleh waktu sekalipun. Cerpen ini pertama kali diterbitkan maka dari itu surat kabar Media Indonesia plong 5 Juli 2015. Sendang lukisan

cerpen pengalaman bermain sepak bola